Rano Karno & Ratu Atit Chosiyah

Rano Karno & Ratu Atit Chosiyah
Rano Karno & Ratu Atit Chosiyah
Tampilkan postingan dengan label ikang fawzi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ikang fawzi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juli 2011

Cermin Buram Rano Karno yang Terjebak Ambisi Mengalahkan Dede Ysusuf Jadi Wagub

rano-karno
Rano Karno. Di dunia film, ia orang besar. Berkarya besar. Boleh jadi juga membukukan sejarah besar (via, misalnya, Si Doel Anak Sekolahan). 


Rano Karno. Di dunia politik, adalah popularitas besar. Pernah (mencicipi kemenangan besar, di Pilkada Kabupaten Tangerang). Menghadapi masalah besar. Dan barangkali juga konflik besar. Mudah-mudahan saja, ia tak mengalami sesuatu yang bisa disebut: kesalahan besar!

Ia juga seseorang yang, sebagaimana layaknya karakter manusia-manusia terpilih, mampu menerobos batas. Bisa disebut mendobrak tradisi. Bahwa di saat para pegiat sinematografik, entah di layar bioskop atau televisi, ramai-ramai menjual kemewahan dan pesona fisik, beliau justru menawarkan gambaran hidup unik, bersahaja —sekaligus jenaka. Apa yang telah dibuat putera dari Soekarno M. Noer ini, juga menyumbangkan sebuah semangat penting —bagi banyak orang di Indonesia. Bahwa untuk berkarya di sebuah bidang kehidupan, tak perlu dan tak wajib sekolah tinggi-tinggi —di bidang tertentu. Rano Karno, sebagaimana kita tahu, tak pernah kuliah di jurusan seni atau program studi film. Tapi lihat saja hasilnya!

Catatan paling pokok, demi membincang Wakil Bupati Kabupaten Tangerang ini juga mesti menyelusup ke waktu terjauh. Kiprahnya bukan sekelebatan angin. Sedari awal, bahkan di usia belia, ia telah mengecap asam-garam industri per-film-an. Di sini, asas totalitas, profesionalitas, dan dedikasi, menjadi perkara inti. Saking jauhnya perjalanannya di bidang ini, tak layak kalau kita meragukan bahwa ia telah menemukan passion (hasrat jiwa). Tak lagi sekedar menjadi aktor karena tuntutan ekonomi, misalnya. Tetapi benar-benar menemukan aktualisasi diri. Menikmati sepenuhnya karir yang membesarkan namanya. Dalam bahasa teori Maslow, ia berada dalam posisi Self Esteem (menikmati aktualiasi diri).

Lalu waktu bergulir. Di paruh terakhir, seiring lewatnya masa golden ages (tahun-tahun emas) dalam perjalanan hidupnya, Si Doel inipun memutar jarum sejarah atas nama dirinya sendiri.

Riwayat Politik
Persisnya, ketika bintang film remaja era 80-an ini bertempur di Pilkada Kabupaten Tangerang (Tahun 2007 lalu). Kala itu, sang tokoh kita ini dipinang oleh Incumbent (Bupati Tangerang), yaitu Ismet Iskandar. Tanpa perlu ba-bi-bu, kehadirannya hanya menggotong satu menu inti: melawan pesaing terkuat (yaitu pasangan Jazuli-Airin, koalisi PKS, PPP, dan PPNUI). Pinangan ini makbul, pasangan Ismet dan Rano unggul —jauh melampaui para pesaing. Namun saat itu ada tetesan makna penting, selain soal nama beken yang mendongkrak perolehan suara.

Tak lain, bahwa Rano berada di kubu yang mewakili semangat anti Banten, tepatnya anti dinasti politik Banten (yang dikuasai keluarga besar almarhum Chasan Shohib). Publik di Kabupaten Tangerang seperti mendapat berkah atas kehadiran Rano. Karena mengkombinasikan faktor kepemimpinan politik dari (asli) Tangerang, sekaligus melakukan perlawanan atas kekuatan super power dari sentra politik di Banten. Dengan demikian, ada dua pilar kemenangan yang menyertai riwayat politik tahap awal untuk Rano Karno. Pilar pertama adalah ghirah politik untuk menyelamatkan Kabupaten Tangerang dari kuku kekuasaan Banten. Pilar kedua, mengimbangi intervensi dan popularitas calon (pesaing) yang berasal dari keluarga Dinasti Politik Banten. Bedanya, bila popularitas Rano adalah asli, tanpa rekayasa. Sementara popularitas keluarga politk di Banten ditopang oleh mesin uang. Rumus itu ternyata sukses.

Lalu Kini?
Kini, Rano Karno seolah menjadi petualang —sebelumnya, di dunia film, ia benar-benar layak disebut sebagai pejuang.

Jauh dari totalitas sebuah komitmen. Lantaran tak ada dokumen publik yang membuktikan bahwa ia sewaktu bertarung di Tangerang, adalah dalam rangka “perjalanan paruh waktu”. Senyatanya, janji politik dan tema kampanye di Tangerang (dulu), adalah melakukan perubahan politik dan melanjutkan pembangunan di Tangerang. Itu artinya, butuh pengabdian total. Termasuk janjinya untuk meninggalkan dunia lamanya (agar bisa konsentrasi penuh sebagai wakil bupati). Tapi jauh panggang dari api, bukan hanya masih (sesekali) melakoni profesi lama, malah kini menapak pindah haluan politik. Menyeberang ke kubu yang dulu menjadi lawan.

Maka, jelas Rano hari ini adalah sosok yang melengkapi dirinya dengan atribut politisi kelas pemburu kekuasaan. Dengan sejumlah logika pembenaran yang menyertai.

Cermin Buram
Di sinilah garis pembeda mengemuka. Bahwa Rano hari lalu adalah cermin bening untuk sebuah komitmen, passion, prestasi, dan taburan jasa. Sementara dalam rekam jejak politik, ia bahkan belum tuntas menjabat (sebagai Wakil Bupati). Belum terdengar karya politik dan jasa monumental atas posisinya selama ini. Kalaupun ada yang menonjol, tak lain adalah bahwa ia memang telah menjadi politisi, yang tak hirau nilai-nilai keberpihakan terhadap masalah rakyat yang pernah memilihnya. Rano hari ini adalah cermin buram…

Agaknya, titik inilah yang patut dilirik oleh publik Banten. Bahwa oportunisme politik (selalu berjibaku dengan peluang kekuasaan) adalah bagian dari tradisi politik yang telah begitu pekat. Teramat bertolak belakang dengan kebutuhan faktual di lapangan. Medan politik Banten hari ini, sesungguhnya butuh penyegaran. Setelah terlalu lama beku dalam format politik gaya lama. Dengan prestasi yang tak pernah benar-benar membantu menolong rakyat di provinsi pecahan dari Jawa Barat ini.

Kondisi ini makin parah karena daya dobrak dan kekuatan pengimbang kian tak kelihatan. Orang berbondong-bondong menjadi baut dan sekrup dari mesin kekuasaan Dinasti Banten. Memiskinkan potensi untuk mendobrak dan melakukan perubahan. Jika seperti ini yang terus terjadi, maka ajang Pilkada Banten November mendatang, hanya sekedar jadi alat legitimasi. Sama sekali tak menjadi alat delegitimasi. Entahlah…

Rano Karno Anak Bonjol Padang Sumatra Barat Mengaku Betawi di Banten

Menghalalkan segala cara demi jadi Wagub Banten 2011

Rano Karno Anak Bonjol Padang Sumatra Barat Mengaku Betawi di Banten

Ternyata Polling Marissa Haque Istri Ikang Fawzi Masih Sangat Tinggi Tahun 2011 di Propinsi Banten: Ferry M A


Ada Perang Artis di Pemilu Kada Banten 2011
Rabu, 06 Juli 2011 21:45 WIB     
Rano Karno & Ratu Atut C--MI/M Irfan/Rommy Pujianto/rj
SERANG--MICOM: Pemilihan Gubernur dan wakil gubernur Banten 2011 diprediksi akan diwarnai dengan perang artis untuk mendongkrak perolehan suara, menyusul hampir dipastikannya calon incumbent Ratu Atut Chosiyah yang akan menggandeng Rano Karno.

Ada Perang Artis di Pemilu Kada Banten 2011"Persaingan sejumlah artis untuk mendongkrak suara pada Pilgub Banten 2011 kemungkinan bisa terjadi. Sebab, berbagai pengalaman pemilu kada sejumlah daerah membuktikan calon yang berasal dari kalangan artis mampu mendongkrak suara pasangannya," kata pengamat politik Universitas Mathaul Anwar Ali Nurdin di Serang, Rabu (6/7).

Ali Nurdin saat dimintai pendapatnya terkait peta Pilgub Banten 2011 mengatakan, sebagai salah satu buktinya peran kuat artis dalam mendongkrak perolehan suara pada Pilkada di wilayah Banten yakni Rano Karno pada pemilu kada Kabupaten Tangerang, sehingga menjadi pemenang bersama Ismet Iskandar.

Sebelumnya, pada pemilu kada Banten 2006 juga memunculkan artis Marissa Haque yang harus diakui mampu mendongkrak perolehan suara cukup signifikan yakni mencapai 32 persen. Begitu juga pada pemilu kada Jawa Barat, artis Dede Yusuf juga menjadi faktor kemenangan bersamapasangannyan Ahmad Heryawan.

Namun demikian, kata dia, selain faktor figur yang populer tetapi juga harus memperhatikan sisi lainnya berupa tingkat sentimen negatif yang melekat pada calon. Sehingga pasangan yang memiliki sentimen negatif itu meskipun populer, jangan sampai malah menurunkan elektabilitas pasangan tersebut. (Ant/OL-2)